Ilustrasi
Para sejarahwan membuat teorilitasi tentang masuknya Islam ke nusantara menjadi minimal lima teori besar. Berikut dijelaskan secara sibgkat seputar teori-teori yang berkaitan dengan masuknya Islam di Nusantata:
1. Teori Arab
Teori ini menyatakan bahwa Islam datang langsung dari Arab, atau tepatnya Hadramaut. Teori ini dikemukakan Crawfurd (1820), Keyzer (1859), Neimann (1861), De Hollander (1861), dan Veth (1878) (Azyumardi Azra, 2005:7). Teori ini mendapat legitimasi dengan fakta bahwa orang-orang Hadramaut adalah pengikut Mazhab Syafii seperti juga kaum muslimin nusantara.
Para sejarahwan juga mencatat bahwa sebagian beaar dari pedagang Arab yang berlayar ke kawasan Indonesia datang dari yaman, Hadramaut dan Oman di bagian Selatan dan Tenggara semenanjung tanah Arab. Kawasan Yaman telah memeluk Islam semenjak tahun 630-631 Hijriyah tepatnya pada zaman Ali bin Abi Thalib. Pengislaman Yaman ini mempunyai implikasi yang besar terhadap proses Islamisasi Asia Tenggara (Mahyudin Hj. Yahya Halimi, & Ahmad Jaelani, 1993:559).
2. Teori Gujarat
Teori ini berpendapat bahwa Islam di nusantara datang dari India pertama kali dikemukakan oleh Pijnapel tahun 1872. Berdasarkan terjemahan Prancis tentang catatan perjalanan Sulaiman, Marcopolo, dan Ibnu Batutah, ia menyimpulkan bahwa orang-orang Arab yang bermazhab Syafii dari Gujarat dan Malabar di India yang membawa Islam ke Asia Tenggara. Dia mendukung teorinya ini dengan menyatakan bahwa, melalui perdagangan, amat memungkinkan terselenggaranya hubungan antara kedua wilayah ini, ditambah lagi dengan umumnya istilah-istilah Persia yang dibawa dari India, digunakan oleh masyarakat kota-kota pelabuhan Nusantara. Teori ini lebih lanjut dikembangkan oleh Snock Hurgronye yang melihat para pedagang kota pelabuhan Dakka di India Selatan sebagai pembawa Islam ke wilayah nusantara. Teori Snock Hurgronye ini lebih lanjut dikembangkan oleh Morrison pada 1951. Dengan menunjuk tempat yang pasti di India, ia menyatakan dari sanalah Islam datang ke nusantara. Ia menunjuk pantai Kotomanfel sebagai pelabuhan tempat bertolaknya para pedagang muslim dalam pelayaran mereka menuju nusantara (Azyumaedi Azra, 2005:32).
3. Teori Benggali
Teori ini dikembangkan oleh Fatim. Ia menyatakan bahwa Islam datang dari Benggali (Bangladesh). Dia mengutip keterangan Tome Pures yang mengungkapkan bahwa kebanyakan orang terkemukaka di pasai adalah orang Banggali atau keturunan mereka. Dan, Islam muncul pertama kali di Semenanjung Malaya dari arah pantai timur, bukan dari Barat (Malak), pada abad ke-11, melalui Kanton Phanrang (Vietnam), Leran, dan Trengganu. Ia beralasan bahwa doktrin Islam di semenanjung lebih sama dengan Islam Phanrang, elemen-elemen prasasti di Trengganu juga lebih mirip dengan prasati yang ada dinilai merupakan pikiran liar belaka. Lagipula mazhab yang dominan di Benggali adalah mazhab Hanfi, bukan mazhab Syafii seperti di semenanjung dan nusantara di secara keseluruhan.
4. Teori Persia
Teori keempat tentang kedatangan Islam di nusantara adalah teori Persia. Pembangun teori ini di Indonesia adalah Hoesein Djayadiningrat. Fokus pandangan teori ini tentang masukkanya agama Islam ke nusantara berbeda dengan teori India dan Arab, sekalipun mempunyai kesamaan masalah Gujaratnya, serta mazhab Syafii-nya. Teori Persia lebih menitikberatkan tinjauannya kepada kebudayaan yang hidup di kalangan masyarakat masyarakat Islam Indonesia yang dirasakan mempunyai persamaan dengan Persia.
Kesamaan kebudayaan ini dapat dilihat pada masyarakat Islam Indonesia antara lain: pertama, peringatan 10 Muharram atau Asyura sebagai hari peringatan Syiah atas kematian syahidnya Husain. Peringatan ini berbentuk pembuatan bubur Syura. Di Minangkabau bulan Muharram disebut bulan Hasan-Husain. Di Sumatera Tengah sebelah Barat, disebut bulan Tabut, dan diperingati dengan mengarak keranda Husein untuk dilemparkan ke sungai atau ke dalam perairan lainnya. Keranda tersebut disebut tabut diambil dari bahasa Arab.
Kedua, adanya kesamaan ajaran antara ajaran syaikh. Siti Jenar dengan ajaran sufi al-Hallaj, sekalipun al-Hallaj telah meninggal pada 310 H/922 M, tetapi ajarannya berkembang terus dalam bentuk puisi, sehingga memungkinkan syaihk. Siti Jenar yang hidup pada abad ke-16 dapat mempelajarinya.
Ketiga, penggunaan istilah bahasa Iran dalam mengeja huruf Arab, untuk tanda-tanda bunyi harakat dalam pengajian Al-Qur'an tingkat awal. Dalam bahasa Persi Fathah ditulis jabar-zabar, kasrah ditulis jer-zeer, dhammah ditulis p'es-py'es. Huruf sin yang tidak bergigi berasal dari Persia, sedangkan sin bergigi berasal dari Arab.
Keempat, nisan pada makam Mulikus Saleh (1297) dan makam Malik Ibrahim (1419) di gresik dipesan dari Gujarat. Dalam hal ini teori Persia mempunyai kesamaan mutlak dengan teori Gujarat.
Kelima, pengakuan umat Islam Indonesia terhadap mazhab Syafii sebagai mazhab yang paling utama di daerah Malabar. Dalam masalah mazhab Syafii, Hoesein Djayadinungrat mempunyai kesamaan dengan GE Morrison, tetapi berbeda dengan teori Mekah yang dikemukaan oleh Hamka. Hoesein Djayadiningrat di satu pihak melihat salah satu budaya Islam Indonesia kemudian dikaitkan dengan kebudayaan Persia, tetapi dalam memandang mazhab Syafii terhenti ke Malabar, tidak berlanjut dihubungkan dengan pusat mazhab Syafii di Mekah.
5. Teori Cina
Islam disebarkan oleh Cina telah dibahas oleh SQ Fatimi. Beliau mendasarkan teorinya ini kepada perpindahan orang-orang Islam dari Canton ke Asia Tenggara sekitar tahun 876 M. Perpindahan ini dikarenakan adanya pemberontakan yang mengorbankan hingga 150.000 muslim. Menurut Syed Naguib Alatas, tumpuan mereka adalah ke Kedah dan Palembang.
Hijrahnya mereka ke Asia Tenggara telah membantu perkembangan Islam di kawasan ini. Selain Palembang dan Kedah, sebagian mereka juga menetap di Campa, Brunei, pesisir timur tanah melayu (Patani, Kelantan, Terengganu dan Pahang) serta Jawa Timur.
Bukti-bukti yang menunjukan bahwa penyeb-aran Islam dimulai dari Cina adalah ditemukannya; batu nisan Syekh Abdul Kadir bin Husin Syah Alam di Langgar, Kedah bertarikh 903 M, batu bertulis Phan-rang di Kamboja bertahun 1205 M, batu nisan di pecan Pahamg bertahun 1208 M, batu nisan puteri Islam Brunei bertahun 1048 M, batu bersurat Trengganu bertahun 1404 M dan batu nisan Fathimah binti Maimun di Jawa timur bertahun 1802 M.
Walaupun dari kelima teori ini tidak terdapat titik temu, namun mempunyai persamaan pandangan yakni Islam sebagai agama yang dikembangkan di Nusantara melalui jalan damai
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar